Jakarta – Pemerintah Thailand membatalkan kontrak ekspor berasnya ke Indonesia karena harganya kemurahan. Pemerintah Indonesia tak panik soal ketersediaan stok karena masih ada alternatif impor dari Vietnam.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, Vietnam menawarkan beras ke Indonesia dengan jumlah yang cukup besar. Demikian juga dengan Pakistan, sehingga tidak perlu ada kekhawatiran.

“Vietnam menawarkan cukup besar, Pakistan juga nawarin. Stok dunia itu cukup. Vietnam itu adalah yang memiliki stok yang cukup,” jelas Hatta di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (28/9/2011).

Hatta mengatakan pemerintah Indonesia dan Thailand memiliki perjanjian perdagangan 1 juta ton beras. Namun dengan pemerintahan yang baru di Thailand, saat ini ada perubahan harga beras di negeri gajah putih itu.

“Jadi kita intinya adalah memenuhi stok dalam negeri kita, meningkatkan produksi target kita 10 juta ton pada 2014. Kalaupun kita menambah itu untuk jaga-jaga, meningkatkan stok kita,” kata Hatta.

Sementara soal renegosiasi harga beras dengan Thailand, Hatta mengatakan itu merupakan kewenangan dari Bulog. Pemerintah tidak mau ikut campur, kecuali mengkoordinasikan saja.

Hatta mengatakan, pemerintah tidak akan terpengaruh dan panik oleh kenaikan harga beras dari Thailand tersebut karena masih banyak alternatif sumber impor lainnya.

Di tempat terpisah, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan Bulog dan wakil pemerintah di Thailand sedang melakukan penjajakan untuk memastikan kabar kenaikan harga beras ini.

“Masih nego soal harga. Ada kontrak (impor beras) yang telah disepakati oleh pemerintahan yang lama. Apakah kontrak ini masih efektif berlaku atau tidak. Kita tuggu saja perkembangan,” jelasnya.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Herman Khaeron sebelumnya mengatakan pemerintah Thailand dikabarkan membatalkan kontrak ekspor beras ke Indonesia sebesar 580 ribu ton. Perdana Menteri Thailand menganggap harga beras yang diekspor ke Indonesia itu terlalu murah.
google.com